Tehnologi Komunikasi 'Memanusiakan Manusia'

Posted on 08 April 2016 by Santi Djiwandono

Generasi Milenial akan semakin mudah kesepian, karena terbiasa bergantung pada teknologi komunikasi dan media sosial yang ‘tidak nyata’  seperti yang disampaikan oleh Simon Sinek (http://www.startwithwhy.com/Events/MoreAboutSimonSinekOnDrOz.aspx.) Keterampilan komunikasi verbal, non-verbal dan keterampilan mendengarkan dengan efektif menjadi tumpul. Padahal inderanya ada dan sudah disiapkan Tuhan.

Cara mempromosikan brand atau merek yang selama ini dilakukan melalui iklan juga mengalami perubahan besar. Biro iklan yang selama ini berperan sebagai mediator antara merek dan konsumennya akan tidak lagi banyak gunanya. Edelman mencatat, bahwa publik lebih percaya, apa yang dibilang family atau friends. Ketimbang yang diklaim oleh brand. Bahkan kekuatan pengaruh atas penyebaran informasi, kini diambil alih oleh publik. Karena otoritas, sebagai pemegang kuasa, yang dulu adalah sekaligus pengendali informasi, kini makin tak bisa dipercaya lagi. Ulasan lebih detil ada pada blog berikut (https://kris170845.wordpress.com/2016/04/03/korban-internet-berikutnya-periklanan/)

Tehnologi mengingatkan kita untuk kembali menyadari bahwa kita ini hidup dan beraktivitas bersama dan dengan manusia. Justru dengan kemajuan tehnologi kita baru sadar bahwa kita diciptakan untuk menggunakan semua ‘perangkat lunak’ kita dalam menjalin relasi, berkomunikasi dengan sesama manusia. Artinya memaksimalkan keterampilan bicara asertif dan articulate. Artinya melatih diri untuk sabar dan mendengarkan orang lain agar mendapat semua informasi dengan utuh sebelum mengambil keputusan. Artinya kita perlu belajar berkomunikasi dengan diri sendiri dulu dan merasa nyaman sebelum menjalin relasi dengan orang lain, sehingga tetap orisinil, authentic.

Artinya membangun usaha dan produknya ke depan harus mulai dengan cara-cara membangun relasi jangka panjang. Lewat komunikasi efektif dan dijaga keberlangsungannya lewat dialog, diskusi tatap muka, lewat cerita yang personal, lewat interaksi yang berorientasi pada tujuan lebih besar.

Artinya membangun keluarga dan anak didik harus juga mulai dari melatih kepekaan mendengarkan, budaya memberi penjelasan yang jujur kepada mereka sedari awal.

Tehnologi akan terus berkembang, berubah, mendobrak dan dinamis. Manusianya juga akan terus beradaptasi bukan untuk terbawa olehnya, namun untuk makin membuktikan kekuatan sebuah penciptaan agung.