Pancasila

Posted on 02 June 2016 by Santi Djiwandono

Pancasila adalah naskah pidato. Naskah bernafaskan nilai hidup berbangsa bagi rakyat Indonesia. Setelah dikomunikasikan oleh Sukarno dan Hatta melalui pidato, maka resmilah Pancasila sebagai dasar kita hidup dalam budaya, prinsip dan cara Indonesia. 

Jika kalimat di atas saya renungkan kembali, ternyata sebenarnya dahsyat sekali para pendiri bangsa Indonesia meletakkan dasar ini dan diwujudkan dalam sila-sila dalam Pancasila.

Sayangnya, kedahsyatan ini seakan 'lewat' begitu saja dalam hidup saya sejak kecil, remaja, dewasa hingga 'setengah matang' saat ini.

Kenapa ya?

Saya mengira karena cara mengomunikasikan prinsip luhur ini kurang atraktif, tidak menarik, cenderung membosankan. Saya ingat bagaimana pelajaran Pancasila itu dulu selalu dianggap 'sebelah mata' atau 'kurang keren' dibanding Matematika atau bahasa Inggris atau Fisika. Sepertinya hingga sekarang, masih begitu ya? Belum lagi, positioningnya tidak pernah terkomunikasikan sebagai nilai hidup bangsa Indonesia yang harusnya diagungkan, diprioritaskan dan diajarkan secara konkret. Melalui bahasa verbal maupun non-verbal.

Lha itu !

Saya membayangkan jika dulu posisi pelajaran Pancasila 'disejajarkan' dengan Matematika atau bahasa Inggris, pasti saya akan belajar mati-matian mendapatkan nilai bagus, berjuang agar perilaku saya dalam hidup sinkron dengan sila Pancasila setiap saat. Saat saya berkelana keliling dunia dan berinteraksi dengan rekan, teman, kolega dari negara lain, kisah seputar Pancasila pasti menjadi bahan utama pesan-pesan saya, dalam berbagai topik. Cara saya mengambil keputusan, cara saya menghadapi krisis, cara saya menghadapi orang lain, cara saya beribadah sesuai agama saya, akan sangat dipengaruhi oleh makna dari Pancasila.

Sekarang bisa jadi adalah saat membuat angan-angan itu menjadi nyata, tidak saja buat saya tapi terlebih buat generasi penerus bangsa, supaya tidak ada lagi generasi yang punya falsafah begitu dahsyat, tapi 'plonga-plongo' alias bego saat harus menonjolkan identitasnya  sebagai orang Indonesia. Seperti saya dulu.

Merdeka!